‘Rossi Menang karena Membalap dengan Hati’
Kris Fathoni W – detiksport
AFP/Gabriel Bouys
Laguna Seca – Sepak terjang Valentino Rossi dalam meraih kemenangan di MotoGP AS dikeluhkan Casey Stoner. Tapi buat Team Manager Fiat Yamaha Davide Brivio, Rossi cuma membalap dengan sepenuh hati.
Rossi harus berjibaku dengan sengit dalam mengatasi perlawanan Stoner di Laguna Seca, Senin, 21/7/2008 dinihari WIB. Keduanya saling susul menyusul nyaris sepanjang balapan.
Pada akhirnya pembalap Yamaha itu keluar jadi pemenang, meninggalkan sang rider Ducati yang sempat terjerembab di gravel akibat ketatnya persaingan.
Stoner kemudian menolak bersalaman dengan Rossi di parc ferme usai balapan dan mengeluhkan gaya balapan Rossi, kendati Brivio segera melakukan pembelaan buat pembalapnya itu.
“Tak ada alternatif: sepanjang pekan Stoner mendominasi dengan selisih delapan per sepuluh sampai satu detik dari pembalap lain, jadi Rossi tahu kalau membiarkan Stoner memimpin akan berarti ketinggalan darinya,” ujar Brivio kepada Italia1 yang dikutip Autosport.
Brivio pun menilai bahwa satu-satunya peluang Rossi juara saat itu adalah tetap memimpin dan tak membiarkan Stoner melaluinya. Itulah yang lantas dilakukan “The Doctor” di lintasan.
“Saya bilang dia bereaksi terhadap setiap pergerakan (Stoner). Dalam pendapat saya, itu adalah balapan luar biasa yang sekali lagi menunjukkan apa yang bisa Anda lakukan saat membalap dengan hati Anda,” demikian Brivio.
sumber:detik.com
Valentino Rossi
Arya Perdhana – detiksport
Pentas MotoGP kerap menelurkan seorang pembalap legendaris di eranya masing-masing. Valentino Rossi adalah pembalap terakhir yang sudah pantas disemati gelar legenda.
Bagaimana tidak, lima gelar juara dunia telah direngkuh oleh Rossi di kelas tertinggi GP Motor (GP 500cc dan MotoGP). Ditambah satu gelar juara dunia 125 cc (1997) dan satu lagi di kelas 250cc (1999), maka lengkaplah pencapaian Rossi.
Rossi lahir pada 16 Februari 1979, di kota Urbino yang terletak di negeri yang sudah banyak melahirkan pembalap hebat, Italia. Ayahnya, Graziano, juga seorang mantan pembalap.
Ketertarikan Rossi pada dunia kebut-kebutan sebenarnya berawal dari kesukaan ke gokart. Pada usia lima tahun, Rossi kecil sudah mengendarai gokart yang ditenagai oleh sebuah mesin 100cc.
Rossi kemudian masih meneruskan hobinya ngebut dengan gokart di berbagai ajang. Meski begitu, ia juga mulai merambah balap motor. Faktor mahalnya biaya membalap di ajang karting membuat Rossi akhirnya berkonsentrasi diajang roda dua saja.
Setelah malang melintang di Italia, Rossi kemudian melangkah ke GP Motor kelas 125 cc pada tahun 1996 bersama pabrikan Aprilia. Di tahun debutnya ini, Rossi menyabet satu gelar juara, yakni di GP Ceko di sirkuit Brno.
Kejayaan Rossi pun dimulai. Setelah kenyang pengalaman di tahun 1996, Rossi akhirnya berhasil menjadi juara dunia pada tahun 1997. Rossi tampil dominan dengan menjuarai 11 dari 15 seri yang dipertandingkan sepanjang tahun.
Tahun 1998, Rossi naik kelas ke nomor 250 cc, juga masih bareng Aprilia. Gagal di tahun pertamanya, Rossi lantas menangguk sukses besar di tahun 1999. Gelar juara dunia diraihnya dengan memenangi sembilan seri.
Rossi pun naik ke kelas tertinggi, GP 500, pada tahun 2000 bersama Honda. Di tahun pertamanya itu, Rossi banyak dibantu oleh Mick Doohan, mantan juara dunia GP 500, serta mekanik andalannya, Jeremy Burgess.
Lagi-lagi, Rossi tak langsung berhasil di tahun pertamanya. Meski berhasil memenangi satu GP, yakni GP Brasil, Rossi gagal jadi juara dunia.
Tahun 2001, gelar juara dunia akhirnya didekap Rossi. Memenangi 11 GP, Rossi akhirnya sukses menjadi juara dunia di tahun terakhir pergelaran kelas 500cc (kelas MotoGP diperkenalkan pada 2001).
Berikutnya, kisah Rossi adalah sejarah. Gelar juara dunia MotoGP direngkuh pemuda berambut kriwil itu dari tahun 2002 hingga 2005. Artinya, total jenderal Rossi mengemas empat gelar tambahan.
Sinar Rossi sempat meredup di tahun 2006 dan 2007. Nicky Hayden menggondol gelar jawara dunia tahun 2006 dan Casey Stoner merebutnya setahun berikutnya.
Setelah dua tahun terpuruk, Rossi pun perlahan bangkit. Di musim kompetisi 2008, pembalap berjuluk The Doctor itu kembali masuk ke persaingan memperebutkan gelar juara dunia.
sumber:detik.com
Rossi Tak Butuh Pistol untuk Kalahkan Stoner
Kris Fathoni W – detiksport
REUTERS/Lucas Jackson
Laguna Seca – Perfoma Casey Stoner di Laguna Seca sebelum balapan bikin Valentino Rossi mengaku untuk mengunggulinya mungkin diperlukan hal ekstrem. Tapi Rossi ternyata hanya butuh kelihaian.
Sesi latihan bebas pertama sampai ketiga MotoGP AS dituntaskan Stoner dengan jadi yang tercepat. Dominasi pembalap Ducati itu juga ditegaskan dengan meraih posisi pole.
Performa dahsyat Stoner menjelang balapan itu tak ayal bikin rivalnya ketar-ketir, apalagi performanya juga sedang menanjak dengan tiga rentetan kemenangan. “Untuk menghentikan Stoner, Anda harus menembaknya,” tukas Rossi ketika itu, seperti dikutip situs MotoGP.
Pernyataan tersebut tentu diceploskan The Doctor dengan setengah berkelakar. Tak jauh beda seperti jawabannya ketika ditanya tentang strategi untuk melibas Stoner. “Start 30 detik lebih dulu dari dia.”
Akan tetapi Rossi ternyata tak butuh senjata untuk menembak Stoner guna menang. Dia hanya perlu start bagus, kecerdikan, kelihaian dan ketenangan di atas motor.
Dalam balapan, Senin (21/7/2008) dinihari WIB, Rossi mengawali dengan amat baik. Untuk pembalap Yamaha berusia 29 tahun tersebut, ini luar biasa positif karena belakangan dia tak mampu melakukan start dengan meyakinkan.
Praktis selepasnya, Stoner dan Rossi langsung saling berjibaku. Pada lap ke-3 keduanya bahkan silih berganti memimpin balapan dengan sengit –tercatat ada enam kali pergantian posisi di antara keduanya, hanya dalam satu lap itu.
Dalam pertarungan itu, Power bawaan Desmosedici GP8 tunggangan Stoner bisa jadi relatif lebih mumpuni dibandingkan YZR-M1 milik Rossi. Tapi itu bisa ditutupi Rossi dengan menjalani balapan secara cerdik dan lihai.
Untuk mengejar, Rossi tak terburu-buru menekan gas tapi senantiasa bisa memaksimalkan celah sempit. Dalam menjaga posisi, antisipasinya pun acap jitu. Sebaliknya Stoner justru terlihat kurang tenang dan beberapa kali seperti terlalu bernafsu. Dampaknya, dia kerap melebar dalam membelok.
Padahal dengan ketatnya pertarungan, faktor ketenangan yang lahir dari pengalaman tak jarang berperan penting. Dalam aspek ini Rossi relatif lebih unggul –setidaknya di kelas 500cc/MotoGP, di mana Rossi sudah berkecimpung sejak tahun 2000 sedangkan Stoner baru menjalani musim ketiganya.
Pada akhirnya, kekalahan Stoner pun tak lepas dari ketidaktenangannya itu. Delapan lap tersisa, pembalap berusia 22 tahun tersebut terlalu melebar ke luar dalam membelok dan akhirnya tersungkur masuk ke gravel.
“Kesalahan yang saya lakukan di lebih dari separuh balapan adalah benar-benar kesalahan saya: saya terlalu melebar dan kehilangan kendali bagian depan saat sedang mencoba kembali ke lintasan. Sudah game over setelah itu,” sesal dia.
Balapan pun akhirnya tuntas dengan Rossi keluar jadi juara untuk kali pertama di Laguna Seca.
sumber: detik.com

Ya elah dit,,,,
kirain isi’a tentang dita,,,
tau-tauna vale lagi,,,vale lagee!!!
letih deh….